Cara Bijak Memarahi Anak
Dudung
Abdussomad Toha*

Sebagaimana senyuman yang damai, kadang kita harus
memarahi anak. Ini bukan berarti kita meninggalkan
kelembutan, sebab memarahi dan sikap lemah-lembut
bukanlah dua hal yang bertentangan. Lemah-lembut
merupakan kualitas sikap, sebagai sifat dari apa
yang kita lakukan. Sedangkan memarahi -bukan
marah-merupakan tindakan. Orang bisa saja bersikap
kasar, meskipun dia sedang bermesraan dengan
istrinya.
Persoalan kemudian, kita acapkali tidak bisa
meredakan emosi pada saat menghadapi perilaku anak
yang menjengkelkan. Kita menegur anak bukan karena
ingin meluruskan kesalahan, tetapi karena ingin
meluapkan amarah dan kejengkelan. Tidak mudah
memang, tetapi kita perlu terus-menerus belajar
meredakan emosi saat menghadapi anak, utamanya saat
menghadapi perilaku mereka yang membuat kita ingin
berteriak dan membelalak. Jika tidak, teguran kita
akan tidak efektif. Bahkan, bukan tidak mungkin
mereka justru semakin menunjukkan "kenakalannya".
Sekali
lagi, betapa pun sulit dan masih sering gagal, kita
perlu berusaha untuk menenangkan emosi saat
menghadapi anak sebelum kita menegur mereka, sebelum
kita memarahi mereka. Selebihnya, ada beberapa
catatan yang bisa kita perhatikan: Ajarkan Kepada
Mereka Konsekuensi, Bukan Ancaman. Anak-anak belajar
dari kita. Mereka suka mengancam karena kita sering
menghadapi mereka dengan gaya mengancam. Mereka
melihat bahwa dengan cara mengancam, apa yang
diinginkannya dapat tercapai. Dari kita, mereka juga
belajar meluapkan kemarahannya untuk menunjukkan
"keakuannya".
Saya tidak memungkiri, banyak pengaruh luar yang
bisa mengubah perilaku anak. Teman-teman sebaya,
khususnya yang sangat akrab dengan anak, bisa
mempengaruhi anak. Ia meniru temannya dari cara
bicara, bertindak, mengekspresikan kemarahan, sampai
dengan kata-kata yang diucapkan. Kadang anak
memahami apa yang dikatakan, tetapi terkadang anak
tidak tahu apa maksudnya. Ia hanya menirukan apa
yang didengar.
Perbincangan kita kali ini bukanlah tentang
peniruan. Karena itu marilah kita kembali berbincang
bersama bagaimana ancaman kepada anak, acapkali
tidak menghasilkan perubahan yang baik. Ancaman
tidak banyak bermanfaat untuk menghentikan kenakalan
anak atau perilaku yang membuat kita sewot.
Sebaliknya, ancaman justru membuat anak belajar
berontak dan menentang. Salah satu sebabnya, anak
merasa orangtua tidak menyayangi ketika kita
meneriakkan ancaman di telinga mereka. Selain itu,
kita sering lupa menunjukkan apa yang seharusnya
dikerjakan anak manakala kita asyik melontarkan
ancaman.
Lalu
apa yang perlu kita lakukan? Pertama, Adalah buruk
memarahi tanpa memberikan penjelasan. Sekali waktu
kita perlu duduk bersama dalam suasana yang mesra
dengan anak untuk berbicara tentang aturan-aturan.
Kedua, kita bisa membuat komitmen bersama dengan
anak untuk mematuhi aturan. Misalnya, mintalah
kepada anak agar tenang ketika ada tamu. Kalau ada
yang perlu disampaikan, atau anak menginginkan
sesuatu, hendaknya menyampaikan kepada orangtua
dengan baik-baik dan bersabar bila belum bisa
memenuhinya. Bersama dengan komitmen ini kita bisa
membicarakan dengan anak konsekuensi apa yang bisa
diterima bila anak mengamuk di saat ada tamu. Sekali
lagi, konsekuensi ini disampaikan dengan nada yang
akrab. Bukan ancaman. Bila anak melakukan hal-hal
negatif yang sangat mengganggu, orangtua bisa
mengingatkan kembali kepada anak dan lagi-lagi tidak
dengan nada mengancam.
Di
sinilah letak beratnya. Kita acapkali mudah
kehilangan kendali. Kita mudah membelalak saat
marah, tetapi lupa untuk konsisten. "Ibu / Bapak
Sudah Bilang Berkali-kali." Perilaku yang
menjengkelkan memang lebih mudah diingat, lebih
membekas dan cenderung menggerakkan kita untuk
segera bertindak. Sebaliknya perilaku positif
cenderung kurang bisa mendorong kita untuk memberi
komentar, kecuali jika perilaku tersebut benar-benar
sangat mengesankan. Konsumen yang kecewa pada suatu
produk, akan segera menggerutu ke sana kemari, meski
kekecewaan itu sebenarnya tidak seberapa. Tetapi
konsumen yang puas cenderung akan diam saja, kecuali
jika kepuasan itu sangat menakjubkan. Orangtua dan
anak juga demikian. Orangtua mudah ingat perilaku
negatif anak, sementara anak mungkin tidak bisa
melupakan tindakan orangtua yang menyakitkan
hatinya.
Salah
satu kebiasaan umum orangtua yang menyakitkan hati
anak sehingga bisa melemahkan citra dirinya adalah
ungkapan, "Ibu / Bapak sudah berkali-kali bilang,
tapi kamu tidak mau mendengarkan." Ungkapan ini
memang efektif untuk membuat anak diam menunduk.
Tetapi ia diam karena harga dirinya jatuh, bukan
karena menyadari kesalahan. Jika ini sering terjadi,
anak akan memiliki citra diri yang buruk. Dampak
selanjutnya, konsep diri dan harga diri (self
esteem) anak akan lemah. Anak melihat belajar
memandang dirinya secara negatif, sehingga lupa
dengan berbagai kebaikan dan keunggulan yang ia
miliki. Sebaliknya orangtua juga demikian, semakin
sering berkata seperti itu kepada anak, kita akan
semakin mudah bereaksi secara impulsif. Kita semakin
percaya pada anggapan sendiri bahwa anak-anak kita
memang bandel, menjengkelkan dan susah dinasehati.
Tidak mudah memang, tetapi kebiasaan memarahi anak
dengan ungkapan "Bapak kan sudah bilang
berkali-kali" atau yang sejenis dengan itu, harus
kita kikis secara sadar dari sekarang. Kita perlu
menguatkan tekad untuk berkata yang lebih positif,
betapa pun hampir setiap komentar kita masih buruk.
Jangan
Cela Dirinya, Cukup Perilakunya Saja
Suatu saat, kira-kira jam setengah dua dini hari
seorang anak saya bangun dari tidurnya. Ia kemudian
beranjak dan mengajak adiknya yang masih bayi
bercanda, padahal adiknya baru saja tertidur.
Sebagaimana ibunya, saya juga sempat emosi.
Hampir-hampir saya tidak dapat mengendalikan emosi,
tetapi saya segera tersadar bahwa yang dilakukan
oleh anak saya merupakan cerminan dari dari rasa
sayangnya kepada adik. Nah, apa yang terjadi jika
saya mencela anak saya? Apalagi kalau saya
memelototi dan menghardiknya keras-keras, iktikad
baik itu bisa berubah menjadi kemarahan sehingga
anak justru mengembangkan permusuhan kepada adiknya.
Ia bisa belajar membenci adiknya.
Apa
yang saya ceritakan hanyalah sekedar contoh. Tidak
jarang anak menampakkan perilaku "negatif", padahal
ia tidak bermaksud demikian. Suatu ketika, pulang
dari play-group anak saya berkata, "Bapak kurang
ajar." Setelah saya tanya maksudnya, ternyata dia
tidak mengerti makna kurang ajar. Ia mengatakan,
"Kurang ajar itu ya main-main, sembunyi-sembunyian."
Kita sangat mudah keliru menangkap maksud anak. Kita
gampang terjebak dengan apa yang kita lihat.
Karenanya kita perlu belajar untuk lebih terkendali
dalam menilai anak. Jangan sampai terjadi anak punya
maksud baik, tetapi justru kita cela dirinya
sehingga justru mematikan inisiatif-insiatif
positifnya. Bahkan andaikan ia memang melakukan
tindakan yang negatif, dan ia tahu tindakannya
kurang baik, yang kita perlukan adalah menunjukkan
bahwa ia seharusnya bertindak positif. Kita luruskan
perilakunya.
Bukan
mencela dirinya. Sibuk mencela anak membuat kita
lupa untuk bertanya, "Kenapa anak saya berbuat
demikian?" Di samping itu, celaan pada diri -dan
bukan pada tindakan-bisa melemahkan citra diri,
harga diri dan percaya diri anak. Pada gilirannya,
anak memiliki motivasi yang rapuh. Sebagian kita
merasa tidak merasa mencela anak, padahal ucapan
kita menyudutkan anak. Misalnya, "Kamu kenapa tidak
mau mendengar nasehat bapak? Heh? Kamu selalu saja
ngeyel." Pada ucapan ini, fokus kemarahan kita
adalah anak sebagaimana kita tunjukkan dengan kata
kamu. Bukan tindakannya yang salah.
Jangan
Katakan "Jangan"
Barangkali tidak ada kata yang lebih sering
diucapkan oleh orangtua pada anak melebihi kata
"jangan". Kita menggunakan kata jangan begitu
melihat anak melakukan tindakan yang kurang kita
sukai. Kita juga menggunakan kata jangan, bahkan di
saat kita mengharap anak melakukan yang lain.
Padahal kata jangan tidak membuat mudah mengerti apa
yang seharusnya dilakukan. Akibatnya, anak sulit
memenuhi harapan orangtua, sementara orangtua bisa
semakin jengkel karena merasa nasehatnya tidak
didengar anak. Orangtua merasa anaknya suka ngeyel
(kepala batu, orang Bugis bilang).
Lalu,
apakah kita tidak boleh memberi larangan? Saya tidak
dapat membayangkan betapa hancurnya sebuah dunia
tanpa ada larangan sama sekali. Begitu pun keluarga.
jangan katakan jangan pada saat ia sedang melakukan
kesalahan. Tunjukkanlah apa yang seharusnya
dilakukan. Atau bersabarlah sampai ia menyelesaikan
maksudnya, Kalau kita tidak mau anak bermain pasir
di teras, katakanlah, "Nak, main pasirnya di teras
saja, ya?" Singkat, padat, jelas dan positif. Bukan,
"Ayo, jangan main pasir di teras. Saya pukul kamu
nanti."
Kapan
sebaiknya kita sampaikan larangan? Saat terbaik
adalah ketika anak sedang akrab dengan orangtua.
Dalam suasana netral, larangan yang kita berikan
pada anak akan lebih efektif. Anak lebih mudah
memahami. Mereka bisa menerimanya sebagai aturan.
Bukan menganggapnya sebagai serangan kepada dirinya.
* Thanks to
Dudung,
www.dudung.net/index.php?naon=profil