Tips Mencari Sekolah Ideal
Imam Subkan
*

Setiap menjelang tahun ajaran baru,
hampir semua orangtua bingung mencari sekolah yang
tepat untuk anak-anaknya. Sebagai orangtua, tentu
kita ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak.
Namun yang ada, Anda justru pusing dibebani segudang
pertanyaan. Seperti apa bentuk sekolah yang baik dan
ideal? Apakah harga menjamin kualitas yang
diberikan? Dan lain sebagainya. Ideal menurut kamus
bahasa Indonesia
artinya sesuai dengan yang diharapkan. Tentunya
orang tua berharap sekolah yang dipilih akan mampu
menjadi tempat
mengembangkan kemampuan anak secara optimal.
Berikut ini, penulis mencoba memberikan tips
bagaimana mencari sekolah yang ideal atau tepat bagi
anak-anak.
Libatkan anak ketika memilih sekolah.
Seharusnya selalu disadari dan dipahami oleh orang
tua, bahwa yang nantinya sekolah adalah anak, bukan
mereka. Maka, melibatkan anak dalam memilih sekolah
merupakan langkah penting, meskipun usia
prasekolah. Orang tua
jangan menganggap remeh kemampuan anak, karena pada
saat usia pra sekolah anak mengalami perkembangan
fisik dan mental yang sangat pesat.
Dalam buku Magic Trees of Mind, Marianne Diamond
menggambarkan, perkembangan kemampuan matematika dan
intelegensia ruang pada
anak diperkirakan dimulai pada usia satu tahun.
Kemampuan bahasa anak malah sudah dimulai sejak
masih dalam kandungan. Ini berarti, daya nalar dan
logika anak pada saat akan memasuki sekolah dasar (6
tahun) sudah berkembang baik. Tinggal bagaimana
orang tua merangsang
kemampuan anaknya. Kondisikan agar proses mencari
sekolah dasar tidak menjadi beban berat bagi si anak
melainkan menjadi proses belajar yang menyenangkan.
Bagaimana jika ternyata pilihan anak jatuh pada
sekolah yang menurut orangtua kurang sesuai? Di
sinilah peran orang tua diperlukan.
Pada saat orang tua telah membuat pilihan sekolah
mana yang akan dimasuki anak nanti, buatlah
kesepakatan sukarela dengan anak bahwa
sekolah yang akan dimasuki adalah murni
pilihan anak. Dengan demikian anak akan merasa
bangga karena diberi kesempatan melakukan hal yang
penting. Di sisi lain anak akan lebih bertanggung
jawab karena merasa sekolah yang dimasukinya adalah
pilihannya sendiri.
Ketahuilah visi dan misinya.
Banyak ahli yang mengingatkan tentang pentingnya
aspek visi dan misi pendidikan yang disandang suatu
sekolah. Sekolah yang memiliki kualitas baik tentu
saja memiliki visi dan misi yang jelas, terukur dan
realistis. Untuk dapat mengetahui visi-misi
sekolah yang diinginkan, dapat dilihat di buku
profil, brosur, papan nama atau media publikasi yang
digunakan oleh sekolah tersebut. Dari visi dan misi
yang dipaparkan dapat terlihat bagaimana orientasi
tujuan dan profil output yang akan dihasilkan.
Pernyataan visi dan misi ini dapat dipotret dari
beberapa aspek, antara lain aspek keagamaan,
akademis, mental, perilaku, kecakapan hidup,
kemandirian dan kewirausahaan. Seperti yang
sudah terungkap di muka, orang tua saat ini masih
memandang aspek akademis menjadi pertimbangan
pertama dalam memilih sekolah. Maka, tidak heran
jika banyak orang tua yang rela melakukan apa saja
untuk mendapatkan sekolah dengan prestasi akademik
tinggi. Pihak sekolah pun akan melakukan seleksi
ketat terhadap calon siswanya. Hanya siswa yang
memiliki IQ tinggi yang dapat diterima di sekolah
yang bersangkutan. Dari kasus ini, Penulis jadi
tergelitik, sebenarnya yang unggul sekolah atau
siswanya. Sangat masuk logika, jika sekolah yang
hanya menerima input baik-baik saja, kemudian out
putnya juga baik.
Oleh sebab itu, orang tua seharusnya tidak lagi
terjebak pada istilah-istilah sekolah favourit,
unggulan, plus dan lain-lain. Padahal yang
dikembangkan hanya pada aspek kognitif saja atau
academic minded. Sekolah yang baik adalah
sekolah yang mampu menggali,
mengembangkan dan mengoptimalkan seluruh
potensi (baca: kecerdasan majemuk) peserta didiknya.
Porsi Pendidikan Agama.
Di era sekarang ini, dimana banyak kasus yang
menimpa generasi penerus kita termasuk dalam hal ini
para pelajar, mulai dari kasus tawuran,
narkotika, pergaulan bebas dan perbuatan
menuyimpang lainnya, maka peran pendidikan agama
menjadi sangat signifikan terutama dalam membentuk
kharakter dan perilaku siswa.
Penulis berpendapat bahwa, pendidikan moral
tertinggi terletak di dalam doktrin-doktrin agama
yang diyakini seseorang. Melalui pendidikan
agama yang cukup, diharapkan para peserta
didik akan muncul kesadaran dan pemahaman yang benar
mengenai tugas, peran dan tanggung jawabnya sebagai
hamba Tuhan, anak, siswa dan anggota masyarakat.
Sebagai implementasinya, anak mampu menghargai orang
lain dengan segala perbedaan serta mampu memilah dan
memilih kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan tidak.
Oleh karena itu, porsi pendidikan agama yang
diterapkan oleh suatu sekolah hendaknuya menjadi
bahan pertimbangan penting orang tua dan
anak dalam memilih sekolah. Barangkali, jika
kita ingin mendapatkan pendidikan agama yang lebih
di sekolah negeri, nampaknya sulit diwujudkan.
Pasalnya, sesuai aturan yang berlaku,
sekolah-sekolah negeri hanya menerapkan 2 (dua) jam
pelajaran agama dalam sepekan, kecuali inisiatif
pihak sekolah untuk mengadakan jam tambahan. Mungkin
dari sini, sekolah-sekolah swasta yang berbasiskan
agama dapat menjadi solusinya. Sekolah ini
jelas-jelas memberikan porsi lebih banyak untuk
pendidikan agama, bahkan sudah dipadukan dengan mata
pelajaran lain, sehingga terdapat
internalisasi nilai-nilai agama di setiap bahan
ajar. Apalagi di jenjang pendidikan dasar, ibaratnya
sebagai momentum peletakan pondasi bangunan
kepribadian dan pengoptimalan seluruh potensi siswa.
Maka, agama menjadi komponen paling penting dalam
membentuk dan membangun kharakter siswa.
Kurikulum pembelajaran.
Kurikulum bisa dikatakan sebagai jantungnya
pendidikan. Dikarenakan di dalamnya berisi tentang
perencanaan pembelajaran yang menyangkut semua
kegiatan yang dilakukan dan dialami peserta didik
dalam perkembangan, baik formal maupun informal guna
mencapai tujuan pendidikan. Walaupun penerapan
kurikulum ini sudah diatur dan diseragamkan dari
pusat, tetapi pihak penyelenggara pendidikan dapat
melakukan
modifikasi-modifikasi disesuaikan dengan kondisi
sekolah, lingkungan, dan kebutuhan masyarakat.
Dalam kebijakan kurikulum terbaru, yaitu Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sangat memberikan
keleluasaan kepada pihak sekolah (negeri maupun
swasta) untuk berkreasi dan berinovasi selama masih
mengacu kepada standar kompetensi yang ditentukan.
Maka, sangat dimungkinkan akan terjadi kompetisi di
antara sekolah-sekolah, tentang bagaimana
menampilkan profil sekolah dan
keunggulan-keunggulannya dalam hal muatan materi
pembelajaran dan kegiatan sekolah. Oleh karena itu,
orang tua dan calon siswa harus benar-benar jeli dan
teliti dalam
memilih sekolah terutama pertimbangan dari
sisi kurikulum yang diterapkan sekolah tersebut.
Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang
diselenggarakan sekolah juga perlu dicermati, apakah
dimungkinkan dapat mengoptimalkan bakat dan potensi
peserta didik.
Profil Pendidik.
Keberhasilan dari proses dan hasil output pendidikan
tidak dapat dilepaskan dari andil guru. Boleh
dikatakan guru sebagai ujung tombak pendidikan untuk
mencetak dan mengkader generasi penerus yang
didambakan. Apalah artinya kurikulum yang
ideal jika tidak didukung oleh pelaksananya, yaitu
sumber daya manusia yang cakap. Maka tidak heran,
jika pemerintah terus-menerus berusaha meningkatkan
kompetensi guru melalui berbagai program, mulai dari
penataran-penataran, beasiswa pendidikan dan
sertifikasi guru.
Raka Joni (1980) mengemukakan adanya tiga dimensi
umum yang menjadi kompetensi tenaga kependidikan,
antara lain:
(1) Kompetensi personal atau pribadi,
maksudnya seorang guru harus memiliki kepribadian
yang mantap yang patut diteladani. Dengan demikian,
seorang guru akan mampu menjadi
seorang pemimpin yang menjalankan peran : ing
ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri
handayani.
(2) kompetensi profesional,
maksudnya seorang guru harus memiliki pengetahuan
yang luas, mendalam dari bidang studi yang
diajarkannya, memilih dan menggunakan berbagai
metode mengajar di dalam proses belajar mengajar
yang diselenggarakannya.
(3) Kompetensi kemasyarakatan,
artinya seorang guru harus mampu berkomunikasi baik
dengan siswa, sesama guru, maupun masyarakat luas.
Mungkin secara sederhana, ketika kita mengamati
profil guru sebuah sekolah, bisa dilihat dari
riwayat pendidikan, pengalaman mengajar,
prestasi, penampilan, sikap dan gaya mengajar
apabila dimungkinkan.
Gedung dan fasilitas.
Komponen pendidikan yang tidak kalah pentingnya
adalah sarana dan prasarana yang mendukung. Mulai
dari bangunan fisik, ruang kelas, taman,
perpustakaan, laboratorium, sarana olah raga dan
kesenian, arena bermain, kantin, perlengkapan kelas,
sampai dengan alat peraga edukasi yang dimiliki.
Seiring dengan kemajuan bidang informasi dan
teknologi, nampaknya bukan hal yang baru sebuah
sekolah memiliki fasilitas akses jaringan internet
dan website sendiri, dimana setiap stake holders
dapat berinteraksi dan berkomunikasi di dunia maya.
Hal ini, akan sangat membantu bagi orang tua untuk
memantau perkembangan putra-putrinya secara cepat
tanpa harus secara fisik datang kesekolah. Dengan
didukung sarana dan prasarana yang baik, diharapkan
semua peserta didik dapat belajar secara enjoy,
nyaman, dan betah. Sekolah
diibaratkan sebagai rumah kedua bagi anak-anak,
sehingga sekolah yang baik mampu memenuhi kebutuhan
dan keinginan siswa. Hal yang perlu diperhatikan
juga mengenai rasio jumlah siswa dengan luas ruangan
kelas serta fasilitas pembelajaran yang lain.
Lokasi sekolah dan lingkungan.
Lokasi yang dimaksud dapat dipandang dari jarak
sekolah ke rumah, lingkungan sekitar dan sarana
transportasinya. Bisa dibayangkan seorang anak harus
bangun pagi-pagi sekali karena letak sekolahnya
jauh. Tentu ia pulang dalam keadaan lelah karena
jarak yang ditempuhnya memakan waktu yang lama.
Belum lagi jika terjadi kemacetan lalu lintas, bisa
dimungkinkan sering terlambat pulang maupun masuk
sekolahnya.
Lalu kapan ia bisa belajar di rumah dengan nyaman?
Bagaimana ia bisa mengembangkan interaksi dengan
anggota keluarga lain di rumahnya?
Maka, faktor lokasi dan lingkungan ini
hendaknya diperhatikan oleh orang tua dan anak itu
sendiri dalam menentukan sekolah pilihannya. Perlu
dipikirkan juga mengenai sekolah yang berlokasi di
pusat perkotaan atau keramaian dan yang berada di
pinggiran atau lebih dekat dengan
suasana alam, semua memiliki plus-minus-nya.
Biaya pendidikan.
Barangkali bagi sebagian kalangan, faktor biaya ini
menjadi pertimbangan paling utama dalam memutuskan
sekolah yang dipilih, terutama bagi masyarakat yang
secara ekonomi kelas menengah ke bawah. Biaya
pendidikan yang ditarik pihak sekolah secara umum
terdiri iuran SPP, bantuan pembangunan/gedung,
seragam, buku, praktikum dan kegiatan
ekstrakurikuler. Sekolah-sekolah yang dianggap
favourit, unggul maupun plus biasanya juga akan
memasang biaya pendidikan yang tidak murah.
Hal ini berkaitan dengan fasilitas pembelajaran dan
program-program unggulan yang ditawarkan. Namun yang
perlu diingat bahwa, tingginya biaya pendidikan yang
diterapkan pihak sekolah hendaknya diikuti juga
dengan pelayanan pendidikan yang berkualitas. Oleh
karena itu, sebelum
menentukan pilihan sekolah, orang tua diharapkan
sudah mampu mengukur
kemampuan secara ekonomi tentang biaya pendidikan
yang harus dikeluarkan termasuk anggaran lain di
luar program sekolah, seperti uang saku,
transportasi, perlengkapan sekolah dan lain-lain.
Ketertiban dan kebersihan sekolah.
Kondisi sekolah yang nyaman, teduh, tenang, tertib
dan lingkungan yang bersih tentu saja akan mendukung
suasana proses pembelajaran.Berbeda dengan suasana
sekolah yang terkesan kumuh, gersang, gaduh,
penempatan perabot sekolah yang semrawut, dan tidak
ada kedisiplinan yang diterapkan, maka proses
belajar mengajar akan banyak terganggu dan kurang
optimal hasilnya. Kata kuncinya, siswa di sekolah
harus merasa senang dan betah seperti ketika berada
di rumahnya sendiri (feels like second home).
Lihat prestasi dan keberhasilan alumninya.
Kriteria yang tidak boleh ditinggalkan dalam memilih
sekolah yang ideal adalah prestasi dan profil
output-nya. Sekolah yang baik, selain unggul
di dalam proses, juga unggul pada hasilnya.
Seperti telah diurakaikan di muka, yang disebut
prestasi tidak hanya secara akademik, tetapi juga
non akademik baik siswa, guru maupun institusinya.
Bagaimana perkembangan bakat dan potensinya, sikap,
perilaku, kemandirian, keterampilan dan keahlian
lain yang mendukung. SedangkanKeberhasilan alumni
dapat diukur dari lulusan sekolah dapat diterima di
sekolah lanjutan yang kualitasnya baik serta
memiliki life skill yang cukup untuk mampu
eksis di tengah masyarakat.
Dari paparan di atas, semoga dapat menjadi bahan
pertimbangan bagi orang tua dan anak di tengah
euforia kebingungan mencari sekolahyang ideal.
Terlebih-lebih dengan diterapkannya sistem
penerimaan siswa baru (PSB) on line yang masih
mengedepankan nilai akademik (ujian nasional) di
dalam proses seleksinya. Hal ini, tentu saja membuat
keresahan dan kepanikan tersendiri terutama bagi
yang nilainya di bawah atau pas-pasan.
Penulis berharap, kedepan sistem seleksi penerimaan
siswa baru yang sekarang ini berlaku perlu dikaji
secara mendalam, bukan komponen IT- nya (sistem
on line), tetapi kriteria yang dijadikan alat
penerimaan, yaitu hanya nilai ujian nasional. Oleh
karenanya, pihak sekolah sendiri secara otonom yang
dapat menentukan kriteria penerimaan siswa baru di
tempatnya, semoga!
* Thanks to
Imam
Subkhan,
www.kabarindonesia.com