Mendidik Anak Tanpa Kekerasan
Ariesandi
*

Seringkali orangtua menanyakan ke saya "Anak saya
ini kalau diomongin susah nurutnya, bagaimana
sih
caranya agar anak nurut dengan
orangtua? Apa musti
dipukul dulu baru nurut ?". Mendengar
pertanyaan
ini, seringkali saya jawab dengan singkat "Kenapa
musti harus dengan kekerasan ?". Dan seringkali
saya menceritakan kisah di bawah ini agar mereka
mengerti apa
maksudnya Mendidik Anak Tanpa
Kekerasan.
Pada suatu hari Dr.Arun Gandhi, cucu Mahatma
Gandhi, memberi ceramah di Universitas Puerto Rico.
Ia menceritakan suatu kisah dalam hidupnya:
Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal
bersama orangtua di sebuah lembaga yang didirikan
oleh kakek saya, ditengah kebun tebu, 18 mil di luar
kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal
jauh di
pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran
bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat
senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk
mengunjungi teman atau menonton bioskop.
Pada suatu saat, ayah meminta saya untuk
mengantarkan beliau ke kota untuk menghadiri
konferensi sehari penuh. Dan, saya sangat gembira
dengan kesempatan itu. Tahu bahwa saya akan pergi ke
kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang ia
perlukan. Selain itu, ayah juga meminta saya
mengerjakan beberapa pekerjaan tertunda, seperti
memperbaiki mobil di bengkel.
Pagi itu setiba di tempat
konferensi, ayah berkata, "Ayah tunggu kau di sini
jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah
bersama-sama". Segera saja saya menyelesaikan
pekerja-pekerjaan yang diberikan oleh ayah dan ibu.
Kemudian, saya pergi ke bioskop. Wah, saya
benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne
sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam
menunjuk pukul 17.30, langsung saya berlari menuju
bengkel mobil dan buru-buru menjemput ayah yang
sudah menunggu saya. Saat itu sudah hampir pukul
18.00 !!!
Dengan gelisah ayah menanyai
saya, "Kenapa kau terlambat ?" Saya sangat malu untuk
mengakui bahwa saya menonton bioskop sehingga saya
menjawab, "Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya
harus menunggu". Padahal, ternyata tanpa
sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel
mobil itu. Dan ayah tahu kalau saya berbohong. Lalu
ayah berkata, "Ada sesuatu yang salah dalam
membesarkan engkau sehingga engkau tidak memiliki
keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah.
Untuk menghukum kesalahan ayah ini, biarkanlah ayah
pulang berjalan kaki sepanjang 18 mil dan
memikirkannya baik-baik".
Lalu dengan tetap mengenakan pakaian
dan sepatunya, ayah mulai berjalan kaki pulang ke
rumah. Padahal hari sudah gelap dan jalanan sama
sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan
ayah, maka selama lima setengah jam, saya
mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau,
melihat penderitaan yang dialami beliau hanya karena
kebohongan bodoh yang saya lakukan.
Sejak itu saya tidak pernah
berbohong lagi. Seringkali saya berpikir mengenai
kejadian ini dan merasa heran. Seandainya ayah
menghukum saya, sebagaimana kita menghukum anak-anak
kita, maka apakah saya akan mendapat sebuah
pelajaran mengenai mendidik tanpa kekerasan ?
Kemungkinan saya akan menderita atas hukuman itu,
menyadarinya sedikit dan melakukan hal yang sama
lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa
kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya
merasa kejadian itu baru terasa kemarin. Itulah
kekuatan bertindak tanpa kekerasan.
Ketika kita berhasil menancapkan
suatu pesan yang sangat kuat di bawah sadar seorang
anak maka informasi itu akan langsung mempengaruhi
perilakunya. Itulah salah satu bentuk hypnosis yang
sangat kuat. Apakah hal sebaliknya bisa terjadi ? Ya
bisa saja ! Oleh karena itu kita perlu keyakinan
penuh dalam melakukannya sehingga hasil positif yang
kita inginkan pasti tercapai. Hal ini memerlukan
pemikiran yang mendalam dan kesadaran diri yang kuat
dan terlatih. Janganlah bertindak karena reaksi
spontan belaka dan kemudian menyesal setelah
melakukannya.
Jika kita mau berpikir sedikit ke
belakang ke masa di mana anak-anak kita masih kecil
sekali maka di masa itulah semua "bibit" perilaku
dan sikap ditanamkan. "Bibit" perilaku dan sikap
inilah yang kelak akan mewarnai kehidupan remaja dan
dewasanya. Siapakah yang menanamkan "bibit" perilaku
dan sikap itu untuk pertama kalinya ? Ya anda pasti
sudah tahu jawabnya, kitalah orangtua yang
menanamkan segala macam "bibit" perilaku dan sikap
itu.
Bagaimana jika sebagian besar waktu
anak dihabiskan dengan pengasuhnya (baby sitter).
Ya berdoalah semoga pengasuh anak anda mempunyai
pemikiran bijaksana dan bisa mempengaruhi anak anda
secara positif. Berharaplah pengasuh anak (baby
sitter) anda mengerti cara kerja pikiran dan
mengerti bagaimana bersikap, berucap dan bertindak
dengan baik agar anak anda memperoleh "bibit" sikap
dan perilaku yang baik.
Seseorang bisa menjadi baik atau
buruk pasti karena sesuatu "sebab". Perilaku, ucapan
sikap, dan pikiran yang baik atau buruk hanyalah
suatu rentetan "akibat" dari suatu "sebab" yang
telah ditanamkan terlebih dahulu. Mungkinkah terjadi
”akibat” tanpa "sebab" ? Mungkinkah anak kita
berbohong tanpa sebab, mungkinkah anak kita "nakal"
tanpa sebab, mungkinkah anak kita rewel tanpa sebab
? Sebagai orangtua kita wajib mencari tahu apa
penyebabnya. Tidaklah pantas sebagai orangtua kita
langsung bereaksi spontan begitu saja tanpa
memikirkan apa yang baru saja kita perbuat. Bukankah
ini akan memberi contoh baru bagi anak kita tentang
bagaimana bertindak dan bersikap ?
Sewaktu kita mempunyai anak maka
kita menjadi orangtua, tetapi kita tidak pernah
punya pengalaman menjadi orangtua. Kita mempunyai
pengalaman menjadi anak. Jadi kita harus mendidik
diri kita sendiri dengan belajar dari anak-anak.
Bukan belajar dari apa yang dilakukan orangtua pada
kita. Ingatlah perasaan sewaktu kita masih menjadi
anak-anak. Amati mereka dan tanggapilah
dengan penuh perhatian apa yang mereka inginkan.
Pengharapan, perlakuan dan pengakuan seperti apa
yang kita inginkan dari orangtua yang tidak pernah
terpenuhi ?
Perlakukan anak-anak seperti kita ingin diperlakukan
! Jangan perlakukan anak-anak seperti apa yang
dilakukan orangtua pada kita.
Wish you become the best parents in the world !
* Thanks to
Ariesandi, hypnoparenting,
http://www.hypnoparenting.com