Perilaku Hiperaktif
Pada Anak
Halal
Guide*

Imad (5 tahun) tidak disukai
teman-temannya. Orang tua sering menjadi khawatir
jika Imad mendekati anak-anaknya. Mereka yang
mengamati tingkah-laku Imad sering menyatakan bahwa
ia hiperaktif. Apakah sebenarnya perilaku hiperaktif
? Bagaimana cara mengatasinya ?
Hiperaktif adalah suatu pola
perilaku seseorang yang menunjukkan sikap tidak mau
diam, tidak menaruh perhatian dan impulsif (semaunya
sendiri). Anak yang hiperaktif cenderung untuk
selalu bergerak, bahkan dalam situasi yang menuntut
agar mereka bersikap tenang. Mereka tidak bisa
berkonsentrasi dalam waktu beberapa menit saja.
Sebentar-sebentar mereka bergerak untuk pindah dari
permainan yang satu ke permainan yang lain. Hal ini
disebabkan karena mereka merasa tidak puas dengan
kegiatan yang dilakukannya.
Menurut Dr. Erik Taylor, perbedaan
jenis kelamin dapat menentukan peluang seorang anak
untuk berperilaku hiperaktif. Anak laki-laki
mempunyi kemungkinan 3 sampai 4 kali lebih besar
untuk menjadi hiperaktif dibanding anak perempuan.
Karena masalah yang biasanya menyertei
hiperaktivitas (misal sifat agresif) pada anak
perempuan tidak begitu berkembang.
Anak Anda Hiperaktif ?
Seringkali orang tua terlalu dini
untuk menilai anaknya hiperaktif. Vonis ini
dijatuhkan begitu melihat keaktifan anaknya yang
melebihi anak lain. Padahal belum tentu demikian.
Dr. Erik Taylor membagi
perilaku aktif yang berlebihan menjadi 3, yaitu :
1. Overaktivitas, yaitu perilaku anak yang tidak mau
diam yang disebabkan kelebihan energi. Hal ini
menandakan bahwa anak tersebut sehat, cerdas dan
penuh semangat. Tapi overaktifitas sesaat bisa
terjadi pada anak yang keaktifannya normal.
2. Hiperaktivitas, yaitu pola
perilaku overaktif yang cenderung ngawur (tidak pada
tempatnya).
3. Sindrom hiperkinetik, yaitu semua
bentuk hiperaktifitas parah, yang menyertai jenis
kelambatan lain dalam perkembangan psikologi,
misalnya sikap kikuk dan kesulitan bicara. Anak yang
berperilaku sangat aktif pada usia 2-3 tahun belum
bisa dikatagorikan hiperaktif, karena rentang
aktivitas yang dianggap normal masih besar. Baru
setelah anak berusia 3 tahun keatas, aktivitas tidak
terarahnya akan menurun drastis. Sebab itu, telebih
dahulu perhatikanlah dengan seksama, apakah
overaktivitas anak hanya karena ia tidak mampu
memusatkan perhatiannya terhadap sesuatu lebih dari
beberapa menit saja, ataukah ia tidak mampu
mengendalikan diri dalam situasi yang menuntutnya
untuk bersikap tenang.
Beberapa hal yang dapat menyebabkan
perilaku hiperaktif ialah :
1. Kondisi saat hamil & persalinan.
Misalnya keracunan pada akhir kehamilan (ditandai
dengan tingginya tekanan darah, pembengkakan kaki &
ekskresi protein melalui urin), cedera pada otak
akibat komplikasi persalinan.
2. Cedera otak sesudah lahir,yang
disebabkan oleh benturan kuat pada kepala anak.
3. Tingkat keracunan timbal yang
parah dapat mengakibatkan kerusakan otak.Hal ini
ditandai dengan kesulitan konsentrasi, belajar dan
perilaku hiperaktif. Polusi timbal berasal dari
industri peleburan baterai, mobil bekas, asap
kendaraan atau cat rumah yang tua. Obat untuk
mengeluarkan timbal dari dalam tubuh hanya diberikan
dibawah pengawasan dokter bagi anak kadar timbalnya
sudah sangat tinggi, karena obat tersebut mempunyai
efek samping.
4. Lemah pendengaran, yang
disebabkan infeksi telinga sehingga anak tidak dapat
mereproduksi bunyi yang didengarnya. Akibatnya,
tingkah laku menjadi tidak terkendali & perkembangan
bahasanya yang lamban. Segeralah hubungi dokter THT
jika anak menunjukkan ciri berikut : perkembangan
bahasa yang lambat, lebih banyak memperhatikan mimik
lawan bicara & lebih banyak berreaksi terhadap
perubahan mimik & isyarat.
5. Faktor psikis, yang lebih banyak
dipengaruhi oleh hubungan anak dengan dunia luar.
Meskipun jarang, hubungan dengan anggota keluarga
dapat pula menjadi penyebab hiperaktivitas. Contoh
kasus, orang tua yang bersikap sangat tegas menyuruh
anak berdiri 15 menit di pojok ruangan untuk
mengatasi ketidakdisiplinannya. Tapi setelah 15
menit berlalu, maka anak malah mempunyai energi
berlebih yang siap meledak dengan akibat lebih
negativ dibanding kesalahan sebelumnya.
Hal utama dalam mengatasi
hiperaktivitas anak adalah hubungan yang baik antara
orang tua & anak. Berikut ini beberapa kaidah bagi
orang tua dalam berinteraksi dengan anak :
1. Mengidentifikasi segi positif.
Tidak ada anak yang benar-benar
berantakan tanpa mempunyai segi positif, sekalipun
ia tergolong anak yang hiperaktif. Satu hal yang
salah & sering terjadi, bahwa orang tua mengukur
segi positif anak dengan saudara sekandung atau
teman sebayanya.
Perlu disadari bahwa setiap anak
mempunyai perkembangan yang berbeda meskipun saudara
sekandung. Beberapa peraturan bagi anak dapat dibuat
dengan memenuhi syarat berikut : jelas & tidak
abstrak, sesuai syar’i, diawali dengan peraturan
mudah dalam waktu yang pendek, tidak dengan marah
ketika menerangkannya pada anak, sesuai dengan
tingkat perkembangan anak dan tidak terlalu banyak.
2. Memberi hadiah
Misalnya jika anak berhasil, yang
bersifat : langsung diberikan, menyenang-kan hati
anak tanpa keluar dari batas syar’i, konsisten yang
berarti diberikan bagi anak yang benar-benar
berhasil dan bukan karena rengekan, disampaikan
dengan hangat & dibarengai dengan pujian.
3. Sekali waktu mengajak anak
menyalurkan energinya di tempat yang lebih luas,
misalnya di taman. Jika orang tua
merasa butuh pertolongan, anak bisa dibawa ke klinik
spesialis terpadu. Disana anak akan dibantu oleh
beberapa ahlinya dalam ilmu penyakit jiwa anak, ilmu
jiwa klinik, ilmu jiwa pendidikan, dokter anak &
psikoterapis. Bagaimanapun, anak adalah amanah
Allah. Tugas orang tua adalah bagaimana
memaksimalkan diri dalam membawa mereka menjadi
hamba Allah yang shalih. Dan Allah-lah yang akan
menentukan hasilnya.
* Thanks to
www.halalguide.info